Curi-Mencuri Antar Kebudayaan Dibicarakan Dalam Simposium

Curi-Mencuri Antar Kebudayaan Dibicarakan Dalam Simposium

Institut Perancis di Indonesia (IFI) bersama Galeri Nasional Indonesia, Rabu, 24 Januari 2018, menggelar simposium bertajuk “Pasca Orientalisme dan Masalah Apropriasi Budaya”. Apropriasi diartikan pengambilalihan. Simposium itu berlangsung pukul 09.00 hingga 17.00.

Bertindak sebagai pembicara, budayawan Anak Agung Rai, Prof. Dr. Bambang Sugiharto, seniman Eddy Soetriyono, sutradara Garin Nugroho, budayawan Goenawan Mohammad, Prof. I Gede Arya Sugiharta, sastrawan Radhar Panca Dahana, budayawan Taufik Rahzen, dan seniman Wayan Kun Adnyana. Simposium dimoderatori oleh Jean Couteau dan Nirwan Dewanto.

Poster acara (Foto: Galnas) Poster acara (Foto: Galnas)

Bali

Berhubung pagi hari saya mengikuti seminar di Perpustakaan Nasional, saya hanya sempat mengikuti simposium pada siang hari. Seniman Wayan ‘Kun’ Adnyana mengatakan Nusantara merupakan tempat yang menarik. Karena itu banyak perupa Barat datang ke sini. Ada tiga gelombang masuknya para seniman Barat ke Indonesia, begitu kata Kun.

Gelombang pertama era 1930 hingga 1940-an, yakni pada masa kolonial Belanda. Seniman yang dikenal Walter Spies, Rudolf Bonnet, Willem Gerard Hofker, dan Le Mayeur de Merpres. Gelombang kedua 1950 hingga 1980-an dan gelombang ketiga 1990-an hingga sekarang.

Dari ketiga gelombang ada kesamaan dominasi dalam akulturasi budaya. Mungkin karena mereka menikahi sang model, yang rata-rata wanita Bali. Saya paling ingat pelukis asal Belgia Le Mayeur yang menjadikan Ni Pollok, gadis berusia 15 tahun, sebagai model. Kisah cinta keduanya saya pernah lihat di Museum Le Mayeur.

Para peserta simposium (Foto: Galeri Nasional) Para peserta simposium (Foto: Galeri Nasional)

Bahari

Menurut Radhar, kebudayaan dipengaruhi oleh penguasa. Mereka yang memiliki kapital besar akan menguasai kebudayaan. Jumlah mereka hanya dua persen dari penduduk dunia, tetapi kekayaannya 90 persen dari kekayaan dunia. “Dulu orang makan getuk, sekarang makan pizza,” kata Radhar memberi contoh.

Radhar memberi judul makalahnya “Skizofrenia Budaya, Arus Interaksi Budaya Bahari dan Kontinental di Indonesia”. Dalam budaya bahari, katanya, hidup mengalir, lisan, harmoni, dan komunal. Sementara dalam budaya kontinental monumentalis, tulisan, kompetisi, dan individual.

Goenawan Mohammad hadir kemudian bersama Taufik Rahzen dan Garin Nugroho. Ini merupakan sesi terakhir. Pada prinsipnya menurut Goenawan, kebudayaan itu tidak murni. Ada curi-mencuri atau pinjam-meminjam antar kebudayaan. Istilah curi atau pinjam—entah mana yang lebih tepat—menjadi pembicaraan dalam diskusi.

Contoh yang dipaparkan Goenawan adalah musik di Eropa yang diselingi irama dari Arab dan pelukis Eropa yang menampilkan kebudayaan Afrika pada karya-karya mereka.

Bentuk alih pengetahuan antarbudaya memang tidak bermakna negatif. Hal itu disadari oleh beberapa pembicara. Soalnya budaya ibarat air yang mengalir. ***

(Djulianto Susantio)